Jawa Timur
Mari kita hadir menjadi cahaya di hari senja Mbah Ruminah. Uluran tangan kita bisa menjadi harapan baru, meringankan beban, dan menghadirkan senyum yang mungkin sudah lama tertahan.
Di usia senjanya yang semakin rapuh, Mbah Ruminah seharusnya bisa beristirahat dengan tenang. Namun kenyataannya, setiap hari ia masih harus melangkah tertatih sambal menjajakan polo pendem (umbi-umbian) demi sesuap nasi.
Semua itu ia lakukan bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk suami tercinta yang sudah 10 tahun terbaring lumpuh karena stroke.
Di balik tubuh rentanya, tersimpan kekuatan hati yang luar biasa. Mbah Ruminah, 80 tahun, berdiri di pinggir SPBU dari pagi hingga sore hanya untuk menunggu pembeli yang kadang tak datang. Penghasilannya yang tak menentu sekitar 15.000-25.000 rupiah sering tidak cukup untuk kebutuhan harian mereka.
Mbah Ruminah kini menumpang tinggal di rumah cucunya, yang bekerja serabutan dengan penghasilan pas-pasan. Sang cucu tetap setia merawat mereka, sebagai bentuk rasa terima kasih karena sejak kecil ia dibesarkan dan disekolahkan oleh Mbah Ruminah dan suaminya.
Setiap hari, Mbah harus menempuh Jarak cukup hanya untuk tiba di lokasi berjualan. Nafasnya sering tersengal, lututnya kerap bergetar, namun ia tidak pernah berhenti. Terik matahari, hujan deras, bahkan dinginnya malam tak pernah menjadi alasan untuk menyerah. Kadang, ia hanya bisa duduk lemas di pinggir pom bensin, berharap ada satu dua pembeli yang datang.

Kehidupan Mbah Ruminah sangat sederhana, penuh keterbatasan, tetapi juga penuh ketulusan. Di usia yang sudah renta, ia masih memikul beban yang seharusnya tidak lagi ditanggung seorang lansia.
Mari kita hadir menjadi cahaya di hari senja Mbah Ruminah. Uluran tangan kita bisa menjadi harapan baru, meringankan beban, dan menghadirkan senyum yang mungkin sudah lama tertahan.
Tidak hanya berdonasi, teman-teman juga bisa membantu dengan cara menyebarkan halaman galang dana ini ke orang-orang terdekat agar semakin banyak orang yang ikut membantu.